This site requires JavaScript. This message will only be visible if you have it disabled.

Berbagai Permasalahan Pekerjaan Beton di Lapangan

BERBAGAI PERMASALAHAN PEKERJAAN BETON DI LAPANGAN

Pembangunan infrastruktur gedung dan jembatan di berbagai daerah di Indonesia tumbuh dengan pesatnya dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun demikian, pertumbuhan tersebut ternyata belum diimbangi dengan peningkatan kualitas pelaksanaan, khususnya dalam pekerjaan pembetonan. Banyak laporan yang diperoleh dari lokasi konstruksi yang memperlihatkan berbagai permasalahan yang terjadi. Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya berupa drop nya mutu beton terpasang, jeleknya kualitas beton terpasang (ditemukan honeycomb, permukaan finish yang jelek, berbagai keretakan, cold joint) dan

Kualitas konstruksi yang dihasilkan di lapangan, selain dipengaruhi oleh tepat tidaknya spesifikasi bahan dan pelaksanaan yang digunakan, juga sangat dipengaruhi oleh kualitas pelaksanaan. Bila ada hal yang kurang tepat pada pelaksanaan, tanda-tanda khusus, seperti keretakan dan lain-lain, akan langsung terlihat pada konstruksi beton yang dihasilkan. 

Dengan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia belakangan ini, semakin meningkat juga bentuk-bentuk permasalahan yang terjadi di lapangan. Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya berupa drop nya mutu beton terpasang, jeleknya kualitas beton terpasang (ditemukan honeycomb, permukaan finish yang jelek, berbagai keretakan, cold joint) dan lain-lain. Salah satu penyebab permasalahan tersebut adalah banyaknya hal-hal mendasar yang mulai terlupakan pada pelaksanaan konstruksi saat ini.

PERMASALAHAN KONSTRUKSI BETON

Baik tidaknya kualitas pelaksanaan di lapangan dapat diukur dari kualitas konstruksi yang dihasilkan. Banyak dijumpai kasus dimana setelah cetakan dibuka permukaan beton memperlihatkan tanda-tanda keropos, keretakan dan bentuk-bentuk ketidaksempurnaan lainnya.

Retak (cracks

adalah pecah pada beton dalam garis-garis yang relatif panjang dan sempit, retak ini dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab diantaranya: evaporasi air dalam campuran beton terjadi dengan cepat akibat cuaca yang panas, kering atau berangin. Retak akibat keadaan ini disebut plastic cracking, Bleeding yang berlebihan pada beton, biasanya akibat proses curing yang tidak sempurna. 
Retakan bersifat dangkal dan saling berhubungan pada seluruh permukaan pada plat, retak jenis ini disebut crazing. Pergerakan struktur, sambungan yang tidak baik pada pertemuan kolom dengan balok atau plat, atau tanah yang tidak stabil. Retakan bersifat dalam atau lebar, retak jenis ini disebut random cracks Reaksi antara alkali dan agregat, retakan yang terbentuk sekitar 10 tahun atau lebih setelah pengecoran dan selanjutnya menjadi lebih dalam dan lebar, retakan saling berhubungan satu sama lain

Voids 

Adalah lubang-lubang yang relatif dalam dan lebar pada beton. Void pada beton dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab: diantaranya: Pemadatan yang dilakukan dengan vibrator kurang baik, karena jarak antar bekisting dengan tulangan atau jarak antar tulangan terlalu sempit sehingga bagian mortar tidak dapat mengisi rongga antara agregat kasar dengan baik. Void yang terjadi berupa lubang-lubang tidak teratur yang disebut honey combing. Bocor pada bekisting yang menyebabkan air atau pasta semen keluar, akan lebih parah jika campuran banyak mengandung air, atau banyak pasta semen atau gradasi agregat yang kurang baik. Keadaan ini disebut sand streaking.

Scalling/Spalling/Erosion

adalah kelupasan dangkal pada permukaan, yang dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, diantaranya: Eksposisi yang berulang-ulang terhadap pembekuan dan pencairan sehingga permukaan terkelupas, keadaan ini disebut scalling Melekatnya material pada permukaan bekisting sehingga permukaan beton terlepas dalam kepingan atau bongkah kecil, keadaan ini disebut spalling Terlepasnya partikel-partikel sehalus debu yang dapat terdiri dari semen yang sangat halus atau agregat yang sangat halus, terlepas akibat abrasi misalnya saat lantai disapu, hal semacam ini disebut dusting

Terdapatnya material organic dalam campuran, kontaminasi yang reaktif atau korosi pada tulangan dapat menimbulkan rongga pada beton yang disebut sebagai popouts, juga dapat disebabkan ekspansi agregat yang pourous segera setelah pengecoran sampai setahun lebih tergantung permeabilitas beton dan ketidakstabilan volume agregat yang digunakan. 

Disintegrasi beton pada titik-titik dimana terdapat aliran air turbulen akibat pecahnya gelembung-gelembung pada air, erosi seperti ini sering disebut water cavitation. Erosi oleh air dimana abrasi oleh benda-benda padat yang tersuspensi dalam air terhadap permukaan beton mengakibatkan disintegrasi beton sepanjang alur aliran air.

Jenis kerusakan lain yang biasanya terjadi pada komponen struktur penunjang bangunan sipil adalah 


Lekatan baja beton kekuatan lekatan dipengaruhi kekasaran permukan baja, kualitas beton disekitar tulangan. Kegagalan lekatan berakibat menurunnya daya dukung komponen struktur terhadap beban yang bekerja, meningkatnya deformasi, bahkan runtuhnya struktur. Kegagalan lekatan bisa diakibatkan korosi pada tulangan, kebakaran, tipisnya selimut beton, jarak tulangan yang rapat serta diameter tulangan yang besar dan gaya siklis akibat gempa. Korosi pada baja tulangan biasanya dikenali dengan bercak karat pada permukaan beton, korosi mudah terjadi pada lingkungan asam namun bila terdapat ion chlorida, proses karat dapat terjadi pada lingkungan basa. Kebakaran, pengaruhnya tergantung lama terjadinya serta tingginya temperatur. Pengaruh kebakaran terhadap kekuatan komponen beton yaitu menurunnya kuat tekan, modulus elastisitas, kuat lekat baja serta ekspansi longitudinal dan radial. Sedangkan akibat gempa, saat terjadi gempa bukan saja diuji secara siklis namun beban yang bekerja pada komponen struktur telah mendekati batas kemampuan komponen dalam memikul beban yang bekerja.

Kerusakan lain diakibatkan serangan kimia penggunaan fly ash pada campuran beton berpotensi serangan kimia terutama lingkungan bersulfat, selain itu tegangan internal yang disebabkan oleh mengembangnya unsur akibat bereaksinya unsur tertentu pada beton, Ca (OH)2, dengan unsur kimia penyerang. Air laut mengandung sulfat yang secara kimiawi dapat menyerang beton, selain itu dapat juga berasal dari nsur asam SO2 dan CO2 yang bersifat melarutkan unsur semen pada beton.

Kerusakan lain diakibatkan penurunan pondasi Sering dijumpai daya dukung tanah baik namun disertai konsolidasi besar. Dilain pihak ada daya dukung tanah tidak seragam di sebagian lokasi bangunan, menjadikan perbedaan penurunan pondasi, komponen yang sering rusak akibat penurunan pondasi adalah dinding pengisi. Sedangkan perkuatan merupakan upaya meningkatkan elemen struktur yang telah ada atau menambah elemen struktur baru yang tidak tersedia atau dianggap tidak perlu saat struktur dibangun. Perkuatan struktur biasanya dilakukan sebagai upaya pencegahan sebelum struktur mengalami kerusakan.

Pemilihan Material untuk Perbaikan

Pemilihan material yang sesuai merupakan persyaratan yang absolut untuk menghasilakan perbaikan yang tahan lama, karena sifatnya dekat dengan beton yang akan diperbaiki, seringkali beton yang dibuat dengan semen Portland atau komposisi yang bersifat cementitious lainnya merupakan pilihan yang terbaik untuk material perbaikan. 

Namun kebutuhan lainnya seperti kondisi kerja tertentu, pencapaian kekuatan secara cepat, perbaikan yang memerlukan ketahanan terhadap serangan bahan kimiawi atau kebutuhan untuk memperoleh permukaan yang estetik seringkali mengakibatkan pilihan jatuh pada material lainnya. 

Namun terkadang dalam perbaikan terdapat pilihan lebih dari satu material yang dapat digunakan dengan hasil yang sama, jika ini terjadi, pilihan terakhir terhadap material atau kombinasi material mesti dilakukan dengan mempertimbangkan kemudahan, penerapan biaya, ketersediaan keterampilan buruh dan peralatan. 

Pada umumnya tiga hal berikut harus diperhitungkan dalam mempertimbangkan pemilihan material yang akan digunakan: kondisi perbaikan, sifat-sifat material perbaikan, dan keterampilan serta peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan perbaikan.

Sifat-Sifat Yang Dibutuhkan Pada Material Perbaikan

Stabilitas Dimensional Salah satu persyaratan utama bagi perbaikan yang berhasil adalah adanya lekatan yang sempurna antara material yang baru dan beton atau substrate yang ada di bawahnya. Rusaknya lekatan ini biasanya disebabkan oleh terjadinya perubahan dimensional akibat susut. Susut yang terjadi pada beton biasanya diperhitungkan dengan memberikan sambungan (joint) yang dapat mengontrol keretakan. Sementara itu sebagian besar perbaikan dilakukan pada beton lama yang sudah tidak mengalami susut lagi sehingga material yang digunakan untuk perbaikan harus bebas dari susut atau dapat menyusut tanpa merusak lekatan dengan beton lama.

Koefisien Ekspansi Thermal  Semua material akan berekspansi dan berkontraksi apabila terjadi perubahan temperatur. Untuk suatu perubahan temperatur tertentu, besar ekspansi serta konstraksi ini tergantung dari koefisien ekspansi thermal material. Koefisien ekspansi thermal untuk beton adalah 0,000006 s.d 0,000012 cm/o c. Jika komposit dari dua material yang memiliki koefisien thermal yang jauh berbeda mengalami perubahan temperatur yang berarti, perbedaan dalam perubahan volume ini akan mengakibatkan kerusakan pada garis lekatan atau di dalam penampang yang memiliki kekuatan yang lebih rendah.

Modulus Elastisitas Modulus elastisitas  suatu material merupakan ukuran bagi kekakuannya. Material dengan modulus elastisitas yang tinggi tidak berdeformasi sebanyak material dengan modulus elastisitas yang lebih rendah ketika menerima beban. Bila dua material dengan modulus elastisitas yang jauh berbeda berada dalam kontak satu terhadap yang lain material dengan modulus elastisitas lebih rendah cenderung untuk meleleh atau melengkung/menggelembung ketika menerima beban. Selain beban luar yang dapat menimbulkan kerusakan pada komposit dengan perbedaan modulus elastisitas yang besar, susut atau pergerakan thermal pun dapat mengakibatkan hilangnya lekatan (bond) kecuali bila modulus elastisitas material perbaikan cukup rendah sehingga memungkinkan pergerakan tanpa menimbulkan tegangan yang eksesif pada garis lekatan.

Jenis-jenis Material Untuk Perbaikan

Pada masa ini tersedia sejumlah besar pilihan material yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan pada struktur beton, diantaranya yang utama adalah:

  • Material-material yang Cementitious Material ini berkisar dari mortar dan grout serta beton yang konvensional sampai kepada material dengan sifat-sifat yang diperbaiki sesuai kebutuhan dengan menggunakan admixtures. Penggunaan admixtures antara lain dapat menghasilkan sifat-sifat kohesif, pencapaian kekuatan secara cepat, kelecakan yang lebih tinggi, daya tahan terhadap tercucinya semen dan pengurangan bleeding serta susut. Material perbaikan yang termasuk dalam jenis ini antara lain:
    • Beton, mortar atau grout, beton terutama digunakan untuk penggantian total penampang atau untuk memperbaiki rongga-rongga yang dalam sampai melalui tulangan beton. Sedangkan mortar dapat digunakan untuk perbaikan rongga-rongga sampai sekecil 4 cm. Grout memiliki keuntungan karena bersifat encer dan dapat dipompa sampai kebagian yang tidak terlihat sekalipun, namun grout memiliki kandungan air yang tinggi dan konsekuensinya mengalami penyusutan lebih besar besar dibanding mortar atau beton.

    • Beton, dan mortar yang dimodifikasi dengan menambahkan latex, merupakan material perbaikan yang sangat berguna untuk melapisi kembali permukaan lantai bangunan atau lantai jembatan yang rusak. Material seperti ini dikenal dengan sebutan beton latex (latex concrete) atau latex-modified concrete dan pada akhir-akhir ini sering dikenal sebagai polimer modified concrete. (Material ini harus dibedakan dari polymer concrete yang mengandung polimer yang tidak ditambahkan dalam bentuk latex. 

    • Beton, mortar atau grout yang dimodifikasi dengan menambahkan polimer, polimer ditambahkan sebagai matrik memiliki beberapa keuntungan bagi pekerjaan perbaikan, keuntungan-keuntungan ini meliputi: kekuatan yang tinggi pada umur dini, kemampuan untuk dicor pada temperatur dibawah titik beku memiliki kekuatan lekat yang baik, durabilitas yang tinggi walaupun bila harus digunakan pada kondisi yang akan merusak beton biasa. Sebagai polimer biasanya digunakan epoxy, polyurethaneunsaturated polyestermethyl methacrylate dan lain-lain. Beton, mortar atau grout yang harus memiliki sifat tertentu untuk suatu tipe perbaikan dapat dibuat menggunakan semen khusus misalnya semen dengan kandungan alumina yang tinggi akan me galami setting dalam 2 s.d 4 jam dan dapat mencapai kuat tekan sebesar 22 Mpa dalam 6 jam. Beton, mortar atau grout yang dibuat dengan bahan ini memiliki daya tahan terhadap perusakan asam, sulfat, alkali, air laut dan minyak. Semen Portland tipe III yang dipakai dengan accelerator akan menghasilkan bahan yang sesuai untuk pekerjaan perbaikan yang cepat. Selain itu semen magnesium phosphate baik untuk pekerjaan penambalan. 

    • Dry Pack, istilah ini biasanya digunakan untuk mortar dengan bahan dasar semen Portland dengan kandungan air yang cukup rendah sehingga tidak mengalami slump. Sebenarnya setiap material yang dapat digunakan dengan konsistensi sedemikian rupa sehingga tidak mengalami slump (no-slump consistency) dapat disebut dry pack. Beton serat, beton serat memiliki kekuatan tarik, kekuatan lentur, daya tahan terhadap impak dan daya tahan terhadap abrasi yang lebih baik daripada beton biasa. Serat yang digunakan dapat berupa metal, plastik, gelas atau serat natural.  Shotcrete, atau yang juga biasa disebut sprayed concrete atau sprayed mortar terdiri dari bahan-bahan pembentuk yang sama seperti beton yaitu semen, agregat dan air. Perbedaan Shotcrete dengan beton biasa adalah bahwa Shotcrete biasanya menggunakan agregat kerikil yang bulat dan kandungan semennya lebih tinggi, selain itu water-cement rasio dari Shotcrete lebih rendah- sekitar 0,4. 

  • Material yang berbahan dasar resin: Epoxy Material ini umumnya dibuat atas dasar epoxy resin dan meliputi resin untuk injeksi (injection resins), mortar yang dapat dicor dan pasta yang dapat diterapkan dengan tangan. Epoxy mortar terdiri dari resin hardener dan filler yang terdiri dari pasir halus , sedangkan epoxy concrete terdiri dari resin, hardener, pasir halus dan agregat kasar ukuran kecil.
  • Elastomeric Sealants Bila retak yang diperbaiki mengalami pergerakan yang berarti, pilihan untuk material yang digunakan sering jatuh pada material ini. Dua tipe elastomeric sealant yang biasa dipakai: hot-applied, yang biasanya merupakan campuran material yang bituminous dengan karet yang kompatibel, cold applied yang dapat didasarkan atas berbagai material dan biasanya harus dicampur di lapangan.
  • Silicones Biasanya digunakan sebagai material perbaikan untuk masalah uap air melalui dinding. Ada dua cara pembuatannya yaitu dengan melarutkan bahan silicone padat pada suatu pelarut atau membuat garam alkali dari asam siliconic dan melarutkannya dalam air. Larutan material ini disemprotkan ke dinding dengan kecepatan 3m2 /ltr dan ketika pelarutnya menguap, silicon resin tertinggal di dalam struktur pori dinding.
  • Bentonite Merupakan bubuk batuan yang diambil dari debu vulkanik yang mengandung mineral tanah liat dengan persentase tinggi terutama sodium bentonite. Material ini dapat mengabsorpsi air dalam kuantitas banyak dan mengembang sampai 30 kali volumenya semula dan membentuk massa yang menyerupai jelly yang efektif berfungsi sebagai penghalang air. f. Bituminous Coating Yang berbahan dasar aspal atau coal ter sering digunakan sebagai waterproofing pada beton atau untuk perlindungan terhadap pelapukan.

Teknik Perbaikan

Berikut ini disajikan beberapa teknik perbaikan untuk menangani kerusakan yang umum terjadi pada beton:

  • Acid Etching, merupakan teknik yang dapat digunakan untuk mempersiapkan permukaan beton asli yang akan menerima penerapan material perbaikan atau untuk mengkasarkan permukaan licin yang akan dikerjakan. Untuk kebutuhan ini biasanya dipakai muriatic acid yang dilarutkan kemudian dituang ke permukaan beton dan disaspu dengan kuat sehingga tidak timbul gelembung-gelembung lagi, lalu permukaan segera dibersihkan dengan menyiramkan air.
  • Caulking, teknik yang digunakan untuk menangani perbaikan terhadap retak dengan ukuran kecil atau menengah dimana secara keseluruhan tidak perlu dibobok atau diganti. Dengan cara ini retak yang sempit pada beton diisi material yang bersifat plastic, bukan yang mengalir dengan mudah seperti grout atau yang kaku seperti dry pack mortar.
  • Routing dan Sealing,teknik ini digunakan untuk memperbaiki retak yang bersifat dormant dan tidak memiliki signifikansi structural. Dengan metode ini retak diperbesar sepanjang permukaan yang terekspos dan mengisinya dengan joint sealant yang sesuai. Sebagai sealant dapat dipilih senyawa epoxy, selain itu dapat digunakan urethane yang akan tetap flexibel pada perubahan temperatur yang besar.
  • Coating, pada cara ini beton dilapisi dengan material bersifat plastic atau cair yang kemudian membentuk lapisan yang menyelimuti beton yang menghadapi lingkungan yang membahayakan. Coating dapat diterapkan dengan cara menyikat, rolling, atau menyemprot. Penggunaan umum coating antara lain untuk waterproofing, melindungi beton dari bahan kimia agresif atau untuk memperoleh masa guna lebih panjang pada beton yang memikul beban lalu lintas.
  • Penggantian secara konvensional: material dengan konsistensi plastic, beton yang rusak dapat diganti dengan mortar berkonsistensi plastic yang dibuat atas dasar semen Portland, atau beton, atau material penambal yasng bersifat plasik lainnya (bukan elastomeric). Beton asli dapat dibuang sebagian atau seluruhnya tergantung besarnya dan sifat kerusakan.
  • Penggantian secara konvensional: dry pack, Prosedur serupa sepert butir e, namun material yang digunakan tidak memiliki slump (no slump) yang disebut dry pack. Material ini dipadatkan kepada daerah yang harus diperbaiki. Cara ini sesuai untuk memperbaiki rongga-rongga yang dalam dan tidak lebar serta tidak dibalik penghalang maupun tulangan beton dengan kata lain yang aksesibilitasnya baik karena dalam hal ini bekisting tidak dibutuhkan.

  • Grinding, bila permukaan suatu plat beton tidak mulus kedatarannya atau bila plat tersebut memiliki lubang atau retak yang dangkal maka teknik ini yang dapat digunakan. Namun cara ini lambat, serta mahal dan menimbulkan debu sehingga cara lain yang juga dapat dipertimbangkan adalah acid etching.
  • Injeksi, retak-retak yang sempit dapat diperbaiki dengan menyuntikkan epoxy resin. Methil methacrylate resins juga sering dipakai, injeksi ini digunakan bila retak bersifat dormant atau dapat dicegah untuk bergerak lebih lanjut.
  • Jacketing, pada cara ini material dilekatkan dengan menggunakan pengencang pada beton. Material ini dapat berupa metal, karet plastic, atau beton dengan kekuatan tinggi. Pengencangan dilakukan dengan baut, paku, sekrup, adhesive atau straps.
  • Prepack concretre, atau disebut juga preplaced aggregate concrete. Pada teknik ini agregat yang bersifat gap graded dipadatkan pada suatu lubang dan direndam dengan air untuk menjadikan aggregate jenuh, kemudian mortar atau grout dipompakan dari dasar sehingga menggantikan tempat air.
  • Resurfacing (overlaying): tipis atau biasa, suatu lapisan (overlay) material perbaikan yang seragam diterapkan pada area beton yang luas. Cara ini digunakan untuk memperbaiki lantai dan perkerasan jalan yang secara struktur masih baik namun permukaan rusak akibat siklus pembekuan-pencairan ataupun lalu lintas berat, terkadang digunakan untuk plat yang akan ditinggikan permukaannya. Ketebalan lapisan yang < 5 cm dikatagorikan tipis dan yang > 5 cm dikatagorikan biasa.
  • Resurfacing (overlaying): bonded atau unbonded, pada saat akan dilakukan resurfacing, perlu ditentukan apakah lapisan akan dilekatkan (bonded) atau tidak. Bila kerusakan merupakan fenomena perrmukaan seperti spalling atau scalling biasanya disarankan dilekatkan. Sebaliknya bila masalah melibatkan retak atau pergerakan struktur mungkin dipilih lapisan yang tidak dilekatkan pada permukaan agar tidak mengganggu plat dasar.pemisahan antara lapisan atas dengan plat dasar dapat memakai pasir, lembaran polyethylene atau keduanya sehingga kedua lapisan dapat bergerak secara bebas.
  • Shotcreting, pada cara ini beton atau mortar ditembakkan dengan tekanan pada lubang atau permukaan beton yang akan diperbaiki yang dilakukan dengan memompa seluruh material yang telah dicampur melalui pipa kemudian menembakkan/memompa bahan atau mortar yang masih kering lalu mencampurnya dengan air pada bagian nozzle pembentuk beton. Stitching, digunakan untuk memperbaiki retak yang besar dimana kontinuitas struktur dan kekuatan tarik harus dikembalikan seperti semula. Pada teknik ini digunakan dogs (metal berbentuk U dengan kaki pendek) diletakkan melalui retak dan diangker pada lubang-lubang dengan menggunakan grout atau sistem perekat berdasarkan epoxy resin yang tidak menyusut. Dogs dengan beberapa ukuran yang berbeda diletakkan di sepanjang bidang-bidang yang berbeda untuk menghindari konsentrasi tegangan.
  • Stitching Tidak akan menutup retak tetapi menghindarkan penyebarannya. Bila terdapat masalah air, retak harus ditutup sehingga tahan air sebelum melakukan untuk mencegah korosi pada Stitching dogs.
  • Penambahan tulangan, pada cara ini mula-mula retak ditutup, lalu lubang-lubang dibuat dengan bor melalui bidang retak pada arah kurang lebih 90o . Lubang-lubang dan bidang retak kemudian diisi epoxy yang dipompa dengan tekanan rendah dan selanjutnya tulangan diletakan pada lubang-lubang tersebut. Epoxy akan merekatkan kembali permukaan beton yang retak dan akan mengangker tulangan.

  • External prestressing, bila daerah yang retak terlalu luas untuk menerapkan Stitching dan retak harus ditutup, metode post tensioning sering dapat digunakan. Pada cara ini batang atau kabel prestressing ditanam pada beton yang rusak, memberikan tegangan padanya sampai suatu tegangan tarik tertentu lalu mengangkerkannya sehingga elemen yang rusak mendapat gaya tekan.
  • Autogenous healing, suatu proses natural perbaikan retak yang dikenal sebagai dapat terjadi pada beton bila lingkungan sekitarnya bersifat lembab dan tidak ada tegangan tarik atau pergerakan. Proses ini akan menutup retak yang bersifat dormant di dalam lingkungan yang lembab. Perbaikan ini tergantung dari terjadinya proses karbonisasi dari calcium hydroxide di dalam pasta semen oleh carbon dioxide yang ada di dalam udara atau air sekelilingnya. Pelekatan kimiawi dan mekanik yang terjadi antara kristal dan permukaan pasta serta agregat akan mengembalikan sebagian kekuatan tarik beton melalui penampang retak dan retak akan tertutup.

Demikian ulasan mengenai berbagai permasalahan pada beton, Dalam dunia kontruksi permasalahan beton di atas beton paling umum ditemui, untuk itu sebelum mengecor alangkah baiknya perlu dipersiapkan segala sesuatunya dan dikonsultasikan secara benar kepada ahlinya agar permasalahan tersebut tidak timbul setelah pengecoran. Untuk informasi pengecoran dan info lainnya dapat anda dapat menghubungi kontak atau link website kami.

Pencarian terkait: